Selasa, 03 Desember 2013

Suami Istri Kolektor Gelar Akademik


Tuan dan Nyonya Roy Chew mengoleksi berbagai gelar akademik. (Foto: TNP/Edvantage)
Mengoleksi action figur atau boneka tokoh favorit sudah biasa. Tapi, hal yang tidak biasa dilakukan sepasang suami istri di Singapura ini. Tuan dan Nyonya Roy Chew mengoleksi berbagai gelar akademik. 
Bayangkan saja, keduanya memiliki empat gelar master dan satu gelar doktoral di samping gelar sarjana yang masing-masing mereka miliki. Bahkan, mereka belum selesai. Masih banyak gelar akademik yang mereka bidik. 
Sebenarnya, kualifikasi akademik ini bukanlah persyaratan untuk mendapatkan kerja. Sebaliknya, kebiasaan ini hanyalah karena pasangan pengantin baru sangat mencintai proses belajar seperti sebuah hobi. 
"Ada masanya ketika saya sangat tenggelam dalam materi bacaan dan proses belajar hingga saya tidak mempedulikan istri saya, yang ketika itu masih pacar. Dia akan menelepon dan menegur saya. Sering kali, dia bahkan bertanya, apakah saya lebih mencintai buku-buku saya dibandingkan dia?" kata Roy, seperti disitat dari Edvantage, Selasa (3/12/2013). 

Pria 35 tahun itu kini bekerja sebagai spesialis di perusahaan semikonduktor. Sementara sang istri, Ny. Chew, kini berusia 31 tahun dan menjadi ibu rumah tangga. 

Koleksi Gelar

Ny. Chew memiliki gelar sarjana di bidang ilmu material. Dia juga meraih tiga gelar pascasarjana, dua dalam bidang ilmu material dan teknik dari National Tsing Hua University di Taiwan dan Northwestern University di Illinois, AS; dan gelar ketiga adalah Management Science and Engineering dari Columbia University, New York.

Tuan Chew adalah sarjana dari St Joseph's Institution and National Junior College. Dia lulus dari bidang teknik elektro dari National University of Singapore (NUS) dan meraih gelar doktor dari departemen Advanced Materials in Micro and Nano Science dari kampus yang sama. Tuan Chew juga meraih IPK gemilang, 4,86 dari skala 5.
Kemudian, Tuan Chew juga meraih gelar Master's of Business Administration dari Management Development Institute of Singapore (Bradford University).

Biaya Pendidikan 

Orangtua Ny. Chew mendukung penuh hobi putrinya dalam meraih gelar akademik. Mereka menggelontorkan lebih dari USD100 ribu. 
Tuan Chew megeluarkan biaya USD27 ribu untuk pendidikan S-2. Sementara itu, gelar doktor Tuan Chew diraih melalui program beasiswa dari Singapore-MIT Alliance, sebuah institusi kerja sama dalam bidang teknik dan ilmu pasti serta kerja sama riset antara NUS, Nanyang Technological University and the Massachusetts Institute of Technology.

Mengapa Belajar Begitu Banyak?

Menurut Ny. Chew, "Saya bekerja di bidang semikonduktor yang sangat teknis. Dan saya ingin mempelajari sesuatu yang memungkinkan saya berinteraksi dengan orang lain."
Dia menambahkan, tiga gelar master yang diraihnya adalah sesuatu yang tidak biasa. Sebab, kebanyakan temannya hanya memiliki satu gelar master. 

Bagi Tuan Chew, belajar adalah pilihan sadar yang menyenangkan. Lagi pula, dia menghabiskan lebih dari satu dekade dalam hidupnya mengejar ilmu pengetahuan. 
Tuan Chew tidak datang dari keluarga yang kaya. Dan sebagai anak kecil, dia menikmati perjalanan ke perpustakaan untuk meminjam buku dan menikmati sejuknya pendingin ruangan. Kecintaan akan belajar pun berlanjut. Jadi ketika kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi muncul, dia pun langsung menyambarnya. 

"Bagi saya, belajar adalah cara efektif untuk mempelajari banyak hal baru. Gelar bukanlah sesuatu yang penting," imbuhnya.
Pasangan ini mengklaim, mereka tidak saling memengaruhi untuk mengejar lebih banyak studi. Ini semua kebetulan. 

Pencapaian Lain 

Ny, Chew dulu bekerja sebagai konsultan untuk sebuah firma dalam industri elektronik serta analis pasar untuk institut riset dan teknologi industri Taiwan. Dia juga penulis buku kuliah. 
Pekerjaan Tuan Chew meliputi posisi manajerial di STMicroelectronics, dan menjadi kepala insinyur di Taiwan Semiconductor Manufacturing Company. Dia mengelola jurnal akademik dan memegang beberapa hak paten. 

Tuan Chew juga merupakan penulis fiksi. Bukunya, "Stargazer S.T." yang bercerita tentang perjalanan anak lelaki tentang cinta dan kehidupan di sebuah negeri dongeng dijual secara online. 
Meski menggilai proses belajar, keduanya tidak akan memaksa anak-anak mereka mengikuti jejak orangtuanya. Menurut Tuan Chew, dia hanya ingin anak-anaknya nanti bahagia, mengikuti passion mereka, mengembangkan kemampuan yang berguna dan berkontribusi ke masyarakat. 

"Karena dengan belajar, kamu akan kehilangan waktu untuk merasakan pengalaman lainnya. Jadi, kamu harus benar-benar bergairah tentang apa yang kamu pelajari," tutur Tuan Chew. 
Tuan Chew mengaku, tidak menyesal dengan semua waktu yang dipakainya untuk mengejar berbagai gelar akademik. Bahkan, dia mengklaim, kualifikasinya tidak menghalangi dirinya untuk mendapatkan pekerjaan pilihannya. Kuncinya, kata tuan Chew, adalah meyakinkan perusahaan bahwa gelar yang kita miliki relevan dan bernilai bagi perusahaan. 

"Saya percaya bahwa gelar akademik membantu saya mengejar ketinggalan dari teman-teman yang memiliki pengalaman kerja lebih banyak, memahami konsep dasar lebih cepat dan bahkan mendalami lebih jauh," paparnya. 
Target Tuan Chew selanjutnya adalah meraih gelar dalam bidang pembelajaran dan pembangunan, serta psikologi organisasional.

Tunjangan Guru Tambah 1 Kali Gaji Pokok


Aktivitas guru sedang mengawasi muridnya. (Foto: Heru Haryono/Okezone)
JAKARTA - Pemerintah mengalokasikan tunjangan profesi guru sebesar Rp60,540 triliun. Anggaran tersebut akan dinikmati oleh 700 ribu guru di Tanah Air.
"Besarnya masing-masing guru mendapatkan satu kali gaji pokok setiap bulannya," demikian seperti dikutip Okezone dari laman Setkab, Selasa (3/12/2013).
Alokasi anggaran untuk tunjangan profesi guru sebesar Rp60,540 triliun merupakan kenaikan yang signifikan dibandingkan anggaran tahun sebelumnya sebesar Rp43,1 triliun yang diberikan kepada sekira 325 ribu guru di sekolah/madrasah di Tanah Air.

Sementara untuk dana bantuan operasional sekolah (BOS) juga mengalami kenaikan dari Rp23,4 triliun (2013) menjadi Rp24,074 triliun. Dana BOS sebesar Rp23,4 triliun digunakan untuk membiayai pendidikan bagi 54,6 juta siswa.
Di sisi lain, pada tahun anggaran 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan bisa menuntaskan pemberian sertifikasi kepada 350 ribu guru tersisa. Setelah sebelumnya pada 2013 sebanyak 350 ribu guru berhasil mendapat sertifikat.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah menetapkan anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp368,899 triliun atau 20 persen dari total anggaran belanja negara. Adapun total anggaran belanja negara sebesar Rp1.842,495 triliun.

Anggaran belanja pendidikan tersebut terdiri atas anggaran pendidikan melalui belanja pemerintah pusat Rp130,279 triliun (tersebar di Kemdikbud Rp80,661 triliun, Kemenag Rp42,566 triliun, dan 16 kementerian/lembaga Rp7,051 triliun), anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah sebesar Rp238,619 triliun.


Senin, 02 Desember 2013

Ujian Akhir SD Satu Kali


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) meringkas pelaksanaan ujian kelulusan SD. Pada tahun sebelumnya, ujian akhir SD terdiri dari Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN) SD. Tahun depan, Kemendikbud hanya menerapkan Ujian Sekolah dan Ujian Madrasah untuk jenis Madrasah Ibtidaiyah (US/UM).
Pembahasan sistem baru ujian akhir tingkat SD itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Tahun 2014 dan Ujian Nasional 2014 di Jakarta tadi malam. Sekjen Kemendikbud Ainun Na'im menuturkan, secara resmi nama ujian akhir untuk jenjang SD sudah diganti.
"Namanya sekarang ujian Sekolah atau Ujian Madrasah. Berlaku untuk jenjnag SD dan sederajat," katanya Minggu (1/12).
Ainun mengatakan, mata pelajaran yang diujikan di US dan UM itu hanya ada tiga, yakni bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sedangkan untuk SDLB (SD Luar Biasa) mata pelajar yang diujikan adalah bahas Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), matematika, dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Pelaksanaan ujian sudah ditetapkan pada 19 - 21 Mei 2014.

Pengubahan sistem ujian akhir tingkat SD itu masih menimbulkan pertanyaan. Karena hanya menggunakan satu jenis ujian akhir, maka status ujian untuk mata pelajaran sampai kemarin masih belum jelas. Apakah akan masuk rangkaian ujian tadi atau disendirikan.
"Kita bahas bersama dengan peserta rakor besok (hari ini, red)," kata Ainun. Yang pasti, Kemendikbud hanya menetapkan satu jenis ujian akhir untuk jenjang SD.
Pada ujian akhir SD tahun depan, Kemendikbud masih melakukan intervensi. Pada tahun sebelumnya, Kemendikbud menyerahkan 25 persen dari seluruh soal butir ujian kepada daerah.
"Tahun ini 25 persen dari pusat itu hanya dalam bentuk kisi-kisi. Silahkan soalnya di buat di derah," kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Dadang Sudiarto.
Dia menolak jika penetapan kisi-kisi 25 persen dari pemerintah pusat itu disebut intervensi. Dadang menyebut upaya itu untuk mengontrol standarisasi kualitas pendidikan. Terkait dengan kelulusan SD dan sederajat, tetap diserahkan ke satuan pendidikan atau sekolah.
Sementara itu dalam paparan kemarin juga terungkap bahwa Kemendibud telah merombak jajaran Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Diduga perombakan ini dilakukan sebagai buntut dari kacaunya pelaksanaan ujian nasional 2013. Pasalnya BSNP adalah badan otonom yang bertanggung jawab menjalankan ujian nasina.
Saat ini ketua BSNP berganti dari Aman Wirakartakusuma kepada Prof Edy Tri Baskoro dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Perombakan pejabat pasca-ujian nasional lainnya juga ada di jabatan kepala Pusat Penelitian Pendidikan Balitbang Kemendikbud dari Hari Setiadi ke Prof Moh. Nizam dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.
"Pergantian pejabat ini kegiatan biasa," ujar Ainun. Khusus untuk anggota BSNP itu, Ainun mengatakan hanya bersifat sementara sampai pengurus yang definitf disahkan. 

Genjot Profesionalisme Guru, Tingkatkan Kesejahteraan


Untuk terus meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Kota Bekasi, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi terus melakukan langkah-langkah upaya perbaikan mutu tenaga pendidik di Kota Bekasi.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Bina Program Disdik Kota Bekasi, Ali Fauzi kepada Radar Bekasi (Grup JPNN), kemarin. Ia menuturkan, saat ini Disdik Kota Bekasi sedang menata sistem keguruan.
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas, distribusi, kesejahteraan dan perlindungan bagi pendidik dan tenaga pendidikan. ’’Ada beberapa upaya yang telah dan sedang kita lakukan, yang pertama kita sedang melakukan penataan sistem keguruan termasuk pendidikan profesi guru dan pelatihan berkelanjutan,” ungkapnya.  

Upaya lain yang dilakukan, kata dia, adalah dengan meningkatkan rasa tanggung jawab dalam menegakkan kode etik, sehingga kinerjanya sejalan dengan peningkatan kesejahteraannya,
Ali juga menyampaikan, perilaku yang ditampilkan oleh guru sebagai tenaga profesional harus berbasis pada kode etik yang ditetapkan oleh organisasi profesi guru.  Kode etik tersebut, kata dia, merupakan seperangkat nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi oleh para guru.
’’Penerapannya dilakukan ketika berinteraksi dengan peserta didik, masyarakat, pemerintah, kolega, atasan, organisasi profesi dan status keprofesian,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Ali juga berpesan agar guru menjadi pembelajar sejati, harus adil tentang kemampuan yang dimiliki. Mereka tidak boleh asal menjawab pertanyaan muridnya tanpa bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dan kepada siapapun yang menerima pelajaran, bahkan dari muridnya, semuanya harus dilandasi dengan cinta kasih sayang. ’’Semoga kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan yang kita lakukan menjadi bagian amal kebajikan,” tandasnya.

Minggu, 01 Desember 2013

Insentif Guru Diusulkan jadi Rp 1,5 Juta


Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengusulkan insentif para guru di seluruh tingkatan akan dinaikkan sebesar Rp 500 ribu, sehingga total yang diterima mencapai Rp 1,5 juta.
Kenaikannya berasal dari Pemprov yang akan menaikkannya dari Rp 300 ribu menjadi Rp 600 ribu, dan Kabupaten dan Kota dari selama ini Rp 700 ribu menjadi Rp 900 ribu. Ditotal keseluruhannya menjadi Rp 1,5 juta tersebut.
Hanya saja dikatakan Awang, itu masih sebatas usulan setelah dilakukan evaluasi selama empat tahun terakhir pelaksanaan pemberian insentif guru tersebut.
"Masih usulan karena kita memandang kesejahteraan guru harus kita tingkatkan salah satunya pemberian insentif itu. Nah kalau Pemprov, kita siap saja Rp 600 ribu perorangnya, untuk Kabupaten dan Kota menaikkan lagi menjadi Rp 900 ribu, itu menunggu persetujuan mereka. Kalau siap dan setuju semua, ya kita jalankan," kata Awang seperti diberitakan Samarinda Pos (grup JPNN).

Menurutnya, selama ini insentif itu berjalan positif dan sangat memberikan efek positif terhadap kesejahteraan para guru, dan bahkan ada beberapa Kabupaten yang lebih dari Rp 700 ribu memberikannya, karena dinilai guru adalah tonggak utama dari maju tidaknya pendidikan.
"Intinya MoU (Memorandum of Understanding) yang saya tandatangani dengan Bupati dan Walikota tahun 2009 lalu itu berjalan dengan baik dan memberikan efek luar biasa terhadap para guru. Nah kita evaluasi, menurut pemikiran saya harus kita tingkatkan karena insentif itu sudah berjalan empat tahun lalu, perlu pembaharuan," ujarnya.
Awang juga memberikan janji terutama dua daerah yang baru sah dibentuk yakni Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kabupaten Mahakam Hulu akan diprioritaskannya untuk diberikan perhatian terkait soal pendidikan. Apapaun permintaan kedua daerah itu, selama bisa dipertanggungjawabkan maka akan dipenuhinya.
"Namanya juga anak bungsu, pasti perhatian akan lebih untuk si bungsu. Tenang saja seperti Kabupaten Mahakam Hulu, saya janji akan perhatikan dunia pendidikannya. Nah Kaltara, dua tahun dari 2014 dan 2015, bisa dirasakan dan dilihat saja, akan kita prioritaskan dunia pendidikan di sana," ujarnya dengan tegas.